Ep. 3 - Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode
Ep. 3 - Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode
Ep. 3 - Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode
May 5, 2025



"Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode"
Jadi QA itu bukan sekadar cari bug atau tunjuk kesalahan orang. Banyak yang mengira QA tuh tukang nyari celah buat nyalahin developer. Padahal kenyataannya, kita ada di posisi yang menjembatani—antara harapan pengguna dan realita sistem. Mindset dasar sebagai QA adalah memastikan produk berjalan sesuai harapan tanpa mengorbankan kerja tim. Kita bukan musuh developer, kita partner yang bantu mereka lihat dari sudut pandang berbeda.
Mindset “penjaga kualitas” berarti kita bukan cuma fokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses. Kita belajar memahami produk, user flow, dan bagaimana semua sistem saling terhubung. Nggak jarang QA harus berpikir seperti user, bahkan kadang lebih teliti dari user itu sendiri. Karena tugas kita bukan buat terlihat paling jago, tapi jadi pengingat: “Eh, kalau begini nanti user bisa bingung, lho.” Mindset ini juga membuat kita nggak cuma mengandalkan tools, tapi juga kepekaan dan logika.
Menjadi QA itu butuh rasa ingin tahu yang tinggi. Kalau ada sesuatu yang “kelihatannya aneh”, naluri QA akan bilang, “coba cek lebih dalam.” Kadang bug yang besar datang dari hal-hal kecil yang diabaikan. Maka dari itu, QA harus punya rasa tanggung jawab tinggi untuk memastikan segala sesuatunya aman sebelum dilepas ke user. Tapi tenang, bukan berarti kita harus jadi perfeksionis akut, melainkan tahu mana prioritas yang penting untuk kualitas.
Selain itu, penting juga buat QA untuk punya pola pikir kolaboratif. Jangan gengsi buat ngobrol sama dev atau PM ketika ada yang janggal. Komunikasi jadi kunci supaya insight dari QA bisa sampai dengan baik dan nggak disalahpahami. Lagipula, dengan kolaborasi yang enak, proses testing juga jadi lebih menyenangkan dan hasilnya lebih maksimal. QA yang baik adalah QA yang bisa menyampaikan temuan dengan jelas, tanpa menyudutkan.
Akhirnya, semua kembali ke satu hal: sebagai QA, kita adalah penjaga terakhir sebelum produk sampai ke tangan pengguna. Kita mungkin nggak menulis banyak baris kode, tapi kontribusi kita terhadap kualitas produk nggak bisa dianggap remeh. Menjadi QA itu bukan tentang menghentikan progress, tapi memastikan kita melangkah di jalur yang benar. Karena ketika mindset-nya kuat, kualitas bukan lagi sekadar hasil… tapi jadi bagian dari budaya kerja.
"Quality means doing it right when no one is looking."
— Henry Ford
"Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode"
Jadi QA itu bukan sekadar cari bug atau tunjuk kesalahan orang. Banyak yang mengira QA tuh tukang nyari celah buat nyalahin developer. Padahal kenyataannya, kita ada di posisi yang menjembatani—antara harapan pengguna dan realita sistem. Mindset dasar sebagai QA adalah memastikan produk berjalan sesuai harapan tanpa mengorbankan kerja tim. Kita bukan musuh developer, kita partner yang bantu mereka lihat dari sudut pandang berbeda.
Mindset “penjaga kualitas” berarti kita bukan cuma fokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses. Kita belajar memahami produk, user flow, dan bagaimana semua sistem saling terhubung. Nggak jarang QA harus berpikir seperti user, bahkan kadang lebih teliti dari user itu sendiri. Karena tugas kita bukan buat terlihat paling jago, tapi jadi pengingat: “Eh, kalau begini nanti user bisa bingung, lho.” Mindset ini juga membuat kita nggak cuma mengandalkan tools, tapi juga kepekaan dan logika.
Menjadi QA itu butuh rasa ingin tahu yang tinggi. Kalau ada sesuatu yang “kelihatannya aneh”, naluri QA akan bilang, “coba cek lebih dalam.” Kadang bug yang besar datang dari hal-hal kecil yang diabaikan. Maka dari itu, QA harus punya rasa tanggung jawab tinggi untuk memastikan segala sesuatunya aman sebelum dilepas ke user. Tapi tenang, bukan berarti kita harus jadi perfeksionis akut, melainkan tahu mana prioritas yang penting untuk kualitas.
Selain itu, penting juga buat QA untuk punya pola pikir kolaboratif. Jangan gengsi buat ngobrol sama dev atau PM ketika ada yang janggal. Komunikasi jadi kunci supaya insight dari QA bisa sampai dengan baik dan nggak disalahpahami. Lagipula, dengan kolaborasi yang enak, proses testing juga jadi lebih menyenangkan dan hasilnya lebih maksimal. QA yang baik adalah QA yang bisa menyampaikan temuan dengan jelas, tanpa menyudutkan.
Akhirnya, semua kembali ke satu hal: sebagai QA, kita adalah penjaga terakhir sebelum produk sampai ke tangan pengguna. Kita mungkin nggak menulis banyak baris kode, tapi kontribusi kita terhadap kualitas produk nggak bisa dianggap remeh. Menjadi QA itu bukan tentang menghentikan progress, tapi memastikan kita melangkah di jalur yang benar. Karena ketika mindset-nya kuat, kualitas bukan lagi sekadar hasil… tapi jadi bagian dari budaya kerja.
"Quality means doing it right when no one is looking."
— Henry Ford
"Mindset QA Menjadi Penjaga Kualitas Bukan Penghancur Kode"
Jadi QA itu bukan sekadar cari bug atau tunjuk kesalahan orang. Banyak yang mengira QA tuh tukang nyari celah buat nyalahin developer. Padahal kenyataannya, kita ada di posisi yang menjembatani—antara harapan pengguna dan realita sistem. Mindset dasar sebagai QA adalah memastikan produk berjalan sesuai harapan tanpa mengorbankan kerja tim. Kita bukan musuh developer, kita partner yang bantu mereka lihat dari sudut pandang berbeda.
Mindset “penjaga kualitas” berarti kita bukan cuma fokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses. Kita belajar memahami produk, user flow, dan bagaimana semua sistem saling terhubung. Nggak jarang QA harus berpikir seperti user, bahkan kadang lebih teliti dari user itu sendiri. Karena tugas kita bukan buat terlihat paling jago, tapi jadi pengingat: “Eh, kalau begini nanti user bisa bingung, lho.” Mindset ini juga membuat kita nggak cuma mengandalkan tools, tapi juga kepekaan dan logika.
Menjadi QA itu butuh rasa ingin tahu yang tinggi. Kalau ada sesuatu yang “kelihatannya aneh”, naluri QA akan bilang, “coba cek lebih dalam.” Kadang bug yang besar datang dari hal-hal kecil yang diabaikan. Maka dari itu, QA harus punya rasa tanggung jawab tinggi untuk memastikan segala sesuatunya aman sebelum dilepas ke user. Tapi tenang, bukan berarti kita harus jadi perfeksionis akut, melainkan tahu mana prioritas yang penting untuk kualitas.
Selain itu, penting juga buat QA untuk punya pola pikir kolaboratif. Jangan gengsi buat ngobrol sama dev atau PM ketika ada yang janggal. Komunikasi jadi kunci supaya insight dari QA bisa sampai dengan baik dan nggak disalahpahami. Lagipula, dengan kolaborasi yang enak, proses testing juga jadi lebih menyenangkan dan hasilnya lebih maksimal. QA yang baik adalah QA yang bisa menyampaikan temuan dengan jelas, tanpa menyudutkan.
Akhirnya, semua kembali ke satu hal: sebagai QA, kita adalah penjaga terakhir sebelum produk sampai ke tangan pengguna. Kita mungkin nggak menulis banyak baris kode, tapi kontribusi kita terhadap kualitas produk nggak bisa dianggap remeh. Menjadi QA itu bukan tentang menghentikan progress, tapi memastikan kita melangkah di jalur yang benar. Karena ketika mindset-nya kuat, kualitas bukan lagi sekadar hasil… tapi jadi bagian dari budaya kerja.
"Quality means doing it right when no one is looking."
— Henry Ford
Quality Assurance

